Dosen FKIP UMSU Gelar PKM Analisis Instrumen Evaluasi Pembelajaran Berbasis HOTS

  • Whatsapp
Dosen FKIP UMSU yang melaksanakan PKM di Sekolah Bina Satria foto bersama dengan peserta

analisamedan.com – Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berjudul “Analisis Instrumen Evaluasi Pembelajaran Berbasis HOTS Bagi Guru SMP di Kecamatan Medan Deli” di Yayasan Perguruan (YP), Bina Sastria Mulia, Jalan Aluminium I.

Adapun Ketua Tim PKM, Yenni Hasnah, SPd, M.Hum, dengan Anggota Pirman Ginting, SPd, MHum, dan Selamat Husni dengan melibatkan dua mahasiswa dan 1 alumni.

Baca Juga:

Dijelaskan, Penilaian hasil belajar diharapkan dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) karena berpikir tingkat tinggi dapat mendorong peserta didik untuk berpikir secara luas dan mendalam tentang materi pelajaran.

Oleh sebab itu, rancangan penilaian yang disusun oleh guru hendaknya relevan terhadap tuntutan keterampilan abad 21, yang meliputi: berfikir kritis (Critical Thinking), kreatif (Creative), komunikasi (Communication) dan kolaborasi (Collaboration) yang dikenal dengan 4Cs (Risdianto, 2019).

Dengan kata lain, guru harus mampu mengembangkan bentuk penilaian hasil belajar (tes) yang memiliki karakteristik High Order Thinking Skills (HOTS). Keterampilan berfikir tingkat tinggi merupakan kemampuan melakukan penilaian penalaran, yang mencakup dimensi proses berfikir; menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mengkreasi (C6).

Pada dimensi proses berpikir menganalisis (C4) menuntut  kemampuan menspesifikasi aspek-aspek/elemen, menguraikan, mengorganisir, membandingkan, dan menemukan makna tersirat. Dimensi proses berpikir mengevaluasi (C5) menuntut kemampuan menyusun hipotesis, memecahkan (masalah), merefleksi, mengkritik, membuktikan, memprediksi, menilai, menguji, membenarkan atau menyalahkan. Sedangkan pada dimensi proses berpikir mengkreasi (C6) menuntut kemampuan merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, memperbaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah.

Untuk menghasilkan soal yang memcerminkan high order thinking, guru harus menggunakan bentuk soal yang bervariasi. Agar butir soal yang ditulis dapat menuntut berpikir tingkat tinggi, maka setiap butir soal selalu diberikan dasar pertanyaan (stimulus) yang berbentuk sumber/bahan bacaan seperti: teks bacaan, paragrap, teks drama, penggalan novel/cerita/dongeng, puisi, kasus, gambar, grafik, foto, rumus, tabel, daftar kata/simbol, contoh, peta, film, atau suara yang direkam.

“Keterampilan dalam merancang soal HOTS harus telah dimiliki oleh setiap guru sehingga para guru dapat menghasilkan soal yang berkualitas dengan menggunakan stimulus yang bervariasi sehingga dapat mengembangkan daya berfikir kritis atau high order thinking skills siswa. Oleh karenanya, sekolah memiliki kewajiban untuk memfasilitasi setiap guru untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam mendesain soal atau tes yang membutuhkan tingkat berfikir tinggi atau kritis dalam menyelesaikan soal tersebut,” katanya.

SMP Bina Satria Mulia yang merupakan sekolah mitra yang bersedia bekerjasama dengan tim PKM UMSU melakukan pelatihan bagi para guru di sekolah tersebut tentang analisis soal atau tes yang berbentuk HOTS.

Dijelaskan, berdasarkan hasil pengamatan dan wawacara dengan beberapa guru, dapat disimpulkan perlu ada upaya peningkatan pemahaman guru tentang soal HOTS. Para pendidik di sekolah dinilai belum memahami secara baik karakteristik atau jenis soal yang berunsur HOTS.

“Oleh sebab itu, mereka kurang mampu mendesain soal-soal yang membutuh penalaran yang tinggi atau daya berfikir kritis yang tinggi. Guru masih cenderung menuliskan butir-butir soal yang memerlukan aspek ingatan. Butir-butir soal yang dihasilkan lebih banyak bersifat menghafal seperti memberikan definisi,dan menyebutkan jenis atau karakteristik,” katanya.

Selain itu, soal yang diujikan juga dapat ditemukan jawabannya di buku teks dengan mudah. Hal ini sangat berdampak pada kualitas desain evaluasi yang digunakan dalam mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap pembelajaran. Rendahnya kualitas evaluasi (soal) yang gunakan secara langsung berpengaruh terhadap kualitas kebijakan tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilukakan pada massa berikutnya.

Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah terkait persoalan tersebut. Kepala Sekolah berharap kegiatan pelatihan analisis soal berbasis HOTS dapat dilaksanakan di sekolah SMP Bina Satria Mulia dalam rangka meningkatkan pemahaman dan keterampilan para guru dalam menyusun butir-butir soal yang menutut penalaran yang tinggi.

“Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk membekali guru agar dapat melaukakan penilaian berbasis HOTS sehingga peserta didik terbiasa dengan soal-soal dan pembelajaran yang berorientasi kepada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill) agar terdorong kemampuan berpikir kritisnya,” ucapnya. (muhammad arifin)

Berikut foto-foto selama kegiatan;

Pos terkait