Bersepeda, Olahraga Menyenangkan, Sehat dan Irit Biaya

  • Whatsapp
Komunitas Bersepeda Masjid Al-Ikhwan (KBMA) Jalan Karya Kasih Medan Johor Foto: Istimewa

analisamedan.com-Teman ngajak untuk gowes (istilah bagi mereka yang bersepeda). “Waduh tak ada sepeda nih,”ujar saya. “Kebetulan bang Harun dan Pak Ipul mau beli sepeda, mau sekalian?” tanya Ahmad. “Okelah,”kata saya.

Dengan mengenderai mobil, kami lalu meluncur ke salah satu toko sepeda yang ada di Jalan Gagak Hitam (ring road). Sampai di sana pukul 10 pagi. Lalu aku masuk ke toko tersebut untuk mencari sepeda yang diinginkan. Di dalam toko sedikit terkejut, banyak pembeli yang sudah antri. Tentunya dengan protokol kesehatan, toko melarang mereka yang tidak menggunakan masker untuk tidak masuk.

Terus terang, sebagai orang yang tidak begitu hobi bersepeda aku sedikit terkejut, karena tarif yang dipasang berbeda-beda pada masing-masing sepeda. Ada yang Rp1,9 juta, Rp4 juta bahkan betepa terkejutkan rupanya ada sepeda yang dibandrol sampai Rp40-juta. “Wah ini sudah menandingi sepeda motor nih,”pikir saya.

Bingung Cari Sepeda

Bingung, mau beli sepeda merek apa. Bagiku, merek tak penting yang penting harganya sesuai standard alias standard di kantong.

“Pak Ali mau sepeda yang mana?” kata Pak Harun yang sama-sama bingung memilih sepeda. “Saya yang biasa-biasa aja, pak. Murah tetapi standard lah,”ujar saya yang sama-sama bingung.

Lalu mata kami tertuju kepada satu sepeda yang dibandrol dengan harga Rp1,9 juta. “Ini ajalah Pak! Ini nampaknya yang murah dibanding sepeda-sepeda yang lain,”ujar saya. “Oke Pak!” saya juga demikian.

Akhirnya sepeda yang berbandrol cukup murah itu di toko itu – walaupun menurut saya agak mahal maklum dulu harga sepeda tidak setinggi ini – kami beli. Kebetulan tinggal 3 lagi yang ada, alhamdulillah, walaupun akhirnya sepeda kami macam kembar, karena warnanya sama.

Sementara sepeda untuk Pak Ipul, tidak ada karena stoknya sudah habis. Maklum badan Pak Ipul ini tinggi besar, jadi dia harus menggunakan sepeda dengan ukuran L. Rupanya sepeda juga punya ukuran seperti size baju, ada S, M dan L.

Pak Ikada yang merupakan salah satu penggemar sepeda yang merupakan kawan Pak Ipul menelepon kawannya sesama penggemar sepeda. “Pak, katanya sepedanya mau dijual, ukuran sepeda bapak L kan, masih berencana untuk menjualnya?” Terjadi dialog antara Pak Ikada dan kawannya. Dan rupanya sepeda yang katanya baru 2 bulan dibeli itu memang mau dijual, karena agak kebesaran sama dirinya. “Oke kami sebentar lagi ke rumah ya?” Kata Pak Ikada yang sudah 6 tahun menjadi pengemar sepeda ini.

Waktunya Booming Bagi Sepeda

Sepeda kami yang sudah kami beli tadi, kami tinggalkan dulu karena harus lebih dulu dirakit dan memang membutuhkan waktu paling lama 1 jam untuk merakitnya. Karena itu kami meluncur ke toko sepeda yang lain. Sama denga toko sepeda sebelumnya, suasana di toko tersebut juga terbilang ramai. “Waduh, sedang booming nih sepeda,”ujar saya.

Sepeda untuk Pak Ipul, juga tidak ada lagi stoknya di toko tersebut, karena sudah habis terjual. Akhirnya, diputuskan untuk melihat dulu sepeda yang dijual oleh temannya Pak Ikada. Kebetulan rumahnya juga berada di jalan ring road. Mobil lalu kembali meluncur untuk mendapatkan sepeda yang sesuai dengan bentuk tubuh Pak Ipul.

Sampai di kompleks perumahan dari pemilik sepeda yang dijual tersebut, kami menunggu sekitar 10 menit, tak lama kemudian, pemilik dan bersama sepeda yang hendaknya dijualnya muncul. Terjadi dialog dan transaksi, akhirnya disepekati sepeda dibeli dengan harga mencapai Rp8 juta rupiah. “Waduh, pikir saya, second aja Rp8 juta berapa kalau yang baru.”

Tanya punya tanya rupanya harga sepeda itu, kalau baru bisa mencapai Rp.11 juta rupiah. Luar biasa, harga sepeda sekarang.
Ya memang, dalam beberapa bulan belakang ini, sepeda sedang naik daun. Yang membuat mereka naik daun karena masyarakat sudah beberapa bulan di rumah saja, akibat pandemi Covid-19. Beberapa ahli mengatakan, untuk menambah imun tubuh diperlukan olahraga, maka sepeda dianggap salah satu olahraga yang bisa menambah daya imun, selain itu karena memang sudah bosan di rumah, maka dengan bersepeda juga menghilangkan rasa bosan.

Di tengah kondisi itu, masyarakat berbondong-bondong melakukan olahraga yang sebenarnya dulu sering ia lakukan yaitu bersepeda. Ya, bersepeda sekarang ini kembali trend, karena itu banyak orang yang mencari sepeda dengan tipe dan merek tertentu. Bisa jadi karena itulah harga sepeda menjadi ‘tinggi’. Ini artinya Corona membawa keuntungan.

Route Karya Kasih-Namorambe

Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Isyarat berkumpul sudah terbaca di pesan whatsAap grup. Maka dengan persiapan ala kadarnya, saya menggowes sepeda yang baru dibeli. Agak canggung juga, maklum sudah lama bersepeda ini saya tinggalkan. Seingat saya ketika masih duduk di stanawiyah lah, setelah itu tidak lagi bersepeda.

Saya sudah di lokasi, beberapa teman sudah ada di lokasi, tentunya dengan gaya masing-masing, ada yang menggunakan training, penutup kepala ala ninja, dan lain-lain. Begitu juga dengan sepeda yang saya lihat. “Wah lengkap sekali sepeda mereka, ada tempat airnya, tempat headphone atau dompet dan aksesoris yang lain.” Sementara saya, hanya menggunakan topi lapangan, training dan baju kaos lengan panjang. Minuman saya bawa karena tidak ada tempatnya terpaksa dipegang dengan tangan, tentu ini sangat membantu. Akhirnya sama titipkan dengan teman yang membawa tas kecil. “Pak Irvan tolong minuman saya ya.” “Oke” ujarnya singkat.

Komunitas Baru

Komunitas bersepada kami ini memang baru, semuanya jemaah Masjid Al-Ikhwan Yayasan At-Tamimiy, makanya kami menyebut Komunitas Bersepeda Masjid Al-Ikhwan (KBMA). Anggotanya belum banyak: ada Pak Suharman (Ketua BKM Al-Ikhwan), Ustad Ahmad, saya, Zainal, Agam, Irvan, Hendra, Benny, Ipul, Harun dan Farel, plus Anto yang tidak bersepeda tetapi mengendarai sepeda motor, untuk ‘menolong’ jika ada anggota yang terpaksa ‘mengangkat’ bendera putih alias tidak sanggup lagi.

Yang namanya baru perjalanan sedikit molor, karena ada beberapa teman yang terlambat mengumpul, baru sekitar pukul 8.30 kami berangkat.

Luar biasa memang, selama perjalanan, banyak komunitas sepeda lainnya yang kami jumpai. Suasana mendung membuat perjalanan kami sedikit terbantu dengan cuaca. Baru 7 kilometer beberapa anggota sudah mulai minta istirahat. Maklum baru pertama, perjalanan tidak harus dikejar. Anto yang bertugas ‘mengamankan’ anggota yang mulai kelelahan sudah berganti menggunakan sepeda, karena sepeda motornya harus ia ikhlaskan di bawa oleh salah satu anggota yang sudah terlihat kelelahan.

Lelah Tapi Bahagia

Lelah memang, tetapi ada rasa bahagia dan senang karena bisa menikmati alam yang belum pernah dijajaki. Terus terang daerah Namorambe memang menjadi daerah favorit sebagian komunitas gowes ini. Karena alamnya masih bersih dan banyak lokasi-lokasi yang bisa dinikmati. Ada sungai dan pemandangan sawah yang sangat menarik mata.

Jujur, semua kami menikmati hal ini. Terutama dalam hal kebersamaan. Maklum dalam beberapa bulan ini, kami tidak berkumpul, tetapi dengan adanya kegiatan ini membuat silaturahim semakin terikat dengan kuat. Candaan-candaan selama bersepeda membuat kami begitu happy, apalagi kami sempat istirahat di daerah yang ada sungainya, sehingga bisa mandi. Sungguh, ini olahraga yang menyenangkan, sehat dan irit biaya.

Kejadia menarik

Setiap momen pasti ada kejadian menarik dan lucu yang bisa saja terjadi kepada siapa saja. Ini cerita Pak Agam. Kebetulan route untuk sampai ke sungai jalannya agak menaik dan turun, selain itu jalannya berbatu-batu. Bagi pemula jalan seperti ini cukup menyulitkan dari pada bahaya, maka jalan satu-satunya menuntun sepeda atau membopong sepeda. Saya dan teman yang lain menuntun sepeda. Berbeda dengan Pak Agam, ia membopong sepedanya saat jalan sedikit menaik. Nah, saat jalan sedikit menurun, sepeda yang dibopongya itu dia letakkan kembali. Lalu kembali bersepeda. Namun apa yang terjadi, dia  berteriak, “Lho mana remnya nih.” Karena kebetulan jalan menurun jadi untuk keamanan harus sedikit merem. Tetapi tidak dengan Pak Agam. Mendengar teriakannya kami berhenti, salah satu kawan menyela, “Lho kemana remnya apa dicuri orang? Aneh juga ya?”.

Apa yang terjadi sebenarnya, rupanya saat ia meletakkan sepeda, sudah bertukar pegangan tangannya, yang kanan ke kiri dan yang kiri ke kanan. Oalah…Tapi kok bisa jalan ya, apa dia tidak sadar, kata kawan yang lain.

 

Lokasi jalan yang sedikit menaik serta jalan yang berbatu membuat kami harus turun dari sepeda. Foto: Istimewa

Mudah-mudahan ini kegiatan ini bisa terus dilakukan disela-sela kesibukan kami masing-masing. Ayo bersepeda!