Falsafah Rindu

  • Whatsapp
Dr. H. M. Syukri Albani, MA
Dr. H. M. Syukri Albani, MA

Oleh: Dr. H.M. Syukri Albani Nasution MA

analisamedan.com– Rindu selalu digunakan manusia mengidentikkan rasa cinta dan kepemilikan. Semua orang yang sedang dalam kerinduan punya banyak cerita bahagia. Kesetiaan adalah teman dekat kerinduan. Tanpa kesetiaan mana mungkin ada rindu. Negasi setia selalu saja berhenti di bumi, wujud antar manusia, antar kepentingan, antar kemanfaatan yang sangat materialistic, berwujud dan matematis. Selebihnya manusia tak mampu menghitung kesetiaan yang abstrak sehingga pada kesetiaan yang abstrak tidak pernah ada rindu.

Syauq (rindu) menjadi pilihan eksklusif para sufi mewujudkan ketertarikan rindunya, bukan pada makhluk- pada khalik-lah rindu bermuara- selanjutnya kepada manusia. Syair Arab yang begitu popular “man ahabba ilaihi, aktsara min dzikri” siapa yang mencintai sesuatu dia akan sering menyebut sesuatu yang ia cintai. Sebutan lisan itu cinta paling dasar, jika lisan sudah tak mampu mewujudkan rasa, maka dia beralih pada rindu (syauq), rindu yang bukan pada bentuk, rindu yang terungkap sebab rasa yang dihadirkan, sering kita menyebut hikmah, karena dengan hikmahlah manusia sulit menyebut sakit sebagai derita, sebab terlanjur menikmati sabar sebagai buahnya sakit.

Manusia yang rindu, adalah manusia yang mengikis komersialismenya bertuhan, beragama, bahagia mendengar hadiah atas shalat dhuha-nya, tapi pupus seketika karena dhuha itu sendiri adalah hadiah utamanya. Banyak orang menjadikan ketaatan sebagai sumber kekayaan, tapi rindu yang kuat itu membuat keadaan terbalik kehidupan sebagai sumber ketaatan. Sulit menyebut kaya sebagai hasil, karena lebih asyik menikmati taat sebagai hasil.

Hasil Pencarian

Rindu itu ahwal-nya orang-orang yang mencari. Pencarian tidak boleh sederhana. Untuk mendapatkan hasil pencarian membutuhkan kekuatan niat. Niat akan merumuskan tenaga membentuk karakter usaha. Niat yang menguatkan kerinduan, kerinduan memunculkan ke-istiqomahan. Keistiqomahan yang melukis amal-kewajiban sebagai hadiah terindah dari sebuah ketaatan. Dunia bukan hasil. Dunia ini jalan. Dan jalan tidak boleh menyesatkan. Menjauhkan diri dari tujuan.

Dalam shalat, pasca takbir mengawali shalat, kita mengucap… inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabil’alaamin. Akad yang sangat teologik, menghampakan sekat horizontal. Harusnya semua orang yang sedikitnya 5 kali mengulangi akad itu akan benar-benar mencintai, dan cinta itu membuat rindu, rindu itu membuat baik, dan baik itu membuat kita benci jahat. Dan jika semua sudah benci jahat. Maka terbukti benarlah ayat Allah “ innas shalaata tanha ‘anil fahsyaa’I wal munkar” shalat-mencegah orang yang tertarik dengan-nya menafikan dari gerak lahir bathinnya perbuatan keji (kejahatan kemanusiaan) dan munkar (ke-ingkaran pada Allah) dari dirinya.

Kemunafikan, ketidak setiaan akan mati dengan sendirinya sebab rindu berbaur dengan taat. Proses simbiosisme membuat makhluk merasa tak berkuasa bila berhadapan pada Khalik, dan yakin mendapat dukungan penuh dari Khalik pada saat berusaha. Ucapannya, gerak fikirnya, langkah dan aktifitas inderawinya terhubung erat dengan takdir yang Allah ridhai. Takdir yang selaras dengan harap bukan melahirkan sombong, tak membuat orang lain hina, benci. Justru semakin dikabulkan menjatuhkan tabiat ke–aku-an diri, sehingga tunduk (liya’budun) menjadi defenisi yang sempurna dalam setiap tabiat muslim.

Energi Alfatihah

Dalam shalat pula kita membaca fasih alfatihah, bagian rukun yang tak terpisahkan. Batallah shalat kalau salah bacaan, apalagi lupa. Berarti energi alfatihah sangat dahsyat pada prilaku pasca shalat orang-orang beriman. Bukan hanya membetulkan bacaan, tapi meng-esensikan bacaan-melebur pada sikap dan kepribadian. Ketatan yang konnektif. Tak ada benturan lisan dengan hati, benturan fikiran dengan jasmani, sehingga benar benar ketemu dengan ketaatan yang utuh-bukan simbolistik saja.

Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in “kepada-Mu kami menyembah, kepada-Mu pula kami meminta pertolongan” kami dalam ayat tersebut mengundang jasmani dan ruhani ikut terlibat aktif-bersama menyembah, bersama pula meminta pertolongan. Bukan berbeda, bukan saling menghakimi, tapi pada saat itu jasmani dan ruhani berdamai bertemu Khalik menyampaikan ketaatan, menyampaikan pula permohonan. Bagaimana mungkin seorang hamba tak rindu pada Khalik-Nya kalau semua dominasi jasmani dan ruhani rindu pada yang memberikan rasa rindu. Logika ini tidak berlebihan, menafikan semua kerinduan keduniaan, atau mampu mengadaptasikan dunia sebagai jalan luas yang memperdekat jarak bertemu keridhoan Khalik.

Ihdinas shirootol mustaqiim. sirothol ladziina an’amta alaihim, ghairil maghduubi ‘alaihim walad dhoolliin.” Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan orang-orang yang engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat. Jalan lurus yang nikmat itu adalah taat. Mendefenisikan kehidupan sebagai ketaatan. Bukan hanya dalam shalat, dalam gerak pun adalah taat, bekerja, makan minum, bercerita, bersedih, berbahagia. Semuanya adalah taat. Esensinya teosentris (mempertemukan aktivitas dengan jalan Tuhan) sehingga sulit menemukan dikotomi yang aneh tentang mana dunia manapula jalan akhirat.

Maghdub dan Dhaalliin

Orang-orang yang maghdub (dimurkai) dan dhaalliin (sesat) adalah orang-orang yang tamak, tidak membagi peran dunia bertemu jalannya. Bahwa jalan dunia itu memantaskan manusia sampai pada kebaikan Tuhan di akhirat. Kemurkaan Allah itu bisa juga dengan membanyakkan hasil dunia yang tak bermanfaat (istidraj). dan kesesatan yang muncul itu adalah orang orang yang kepintarannya tidak mendekatkannya pada kemurnian tujuan. Terlalu asyik membina perbedaan agar kaumnya menghambakan diri pada kebenaran yang berhujah keluar dari lisannya.

Ada kesan belakangan ini kebenaran disyairkan dengan penuh kesombongan, padahal sya’ir ilmu yang disajikan dengan kesombongan sering dihadiahi Allah dengan kekeringan. Kering hati menerima kebenaran, apalagi mengadopsi-nya sebagai ketataan. Orang sombong itu bahagia menyalahkan orang yang dianggapnya salah. Berdiri tegak pada dalil kebenarannya. Dan menghardik orang yang berbeda dengannya. Padahal esensi agama adalah nasehat. Membaikkan yang jahat. Menundukkan hati orang yang baik.

Filosofi rindu melahirkan keawaman berfikir. Sebab hasil fikir sudah disandera oleh rindu. Karena rindu akan menguatkan keletihan, menyabarkan orang yang diuji serta merubah nilai dari materi menjadi ketaatan. Wallahu a’lam